08 Februari 2019

Kisah tentang Pisang Dan Penjualnya

Penjual pisang ini adalah seorang bapak tua yang biasanya kupanggil Babeh. Di Pasar Minggu. Di belakang terminal bus, juga belakang pasar. Di pinggir jalanan yang selalu becek setiapkali selepas hujan melanda. Baik besar, apalagi gerimis.
Tubuhnya bongkok, kurus, kecil, berkulit hitam, berambut ikal, berkumis tebal. Seringkali kudapati dia sedang merokok murahan saat kusamperi lapaknya. Lapak sementara yang hanya berupa 2-3 keranjang berisi pisang-pisang kelas 2.
Ya. Dia selalu menjual pisang kelas 2. Pisang yang jarang dilirik oleh pedagang besar, juga pembeli. Ia menjualnya murah. Sangat murah. Bahkan tak jarang aku menolak beberapa sisir yang dia berikan. Tiga sisir pisang ambon seharga Rp5.000. Atau Rp10.000 dikasih 3, terkadang 5. Apalagi jika yang tersedia pisang ambon lumut, aku bisa mengambilnya sesuka hati. Atau setandan pisang tanduk seharga 10 ribu. Dan aku tak pernah menawar.
Terkadang aku menganggap dagangannya terlalu tidak masuk akal. Untuk ukuran Jakarta yang gemerlap. Bagaimana caranya dia menghidupi dirinya? Juga keluarganya. Yang tinggal di Garut. Yang dikunjunginya beberapa bulan sekali.
Satu hal yang kusukai, dia tidak pernah berbohong, seperti kebanyakan pedagang pisang yang kutemui. Bilangnya bagus, mateng sempurna, ternyata karbitan. Dalam suasana pasar sekitar maghrib yang remang, menentukan pisang yang bagus tidak jarang menyulitkan.
Suatu kali, aku memberinya uang zakat. Zakat mal dari bosku yang budiman. Ia menangis. Berterima kasih dengan sangat, lalu dengan cekatan memberikan bersisir-sisir pisang yang banyak. Aku menolak. Juga ikut menangis.
Dalam hati saja.

Tidak ada komentar: