23 Juni 2019

Nahdliyyin Yang Bersujud Di Hadapan Yesus

Cerita ini berlatar-belakang jaman SMA, tahun ajaran 1995-1996.

Sekitar awal kelas 3, saya dan seorang kawan sebangku memutuskan untuk mencari bahan persiapan UMPTN ke Pasar Atom Surabaya. Sebagai info, waktu itu toko-toko buku di Jombang memang persediaannya terbatas. Sehingga mau tak mau kami musti ke Surabaya untuk mendapatkan koleksi paling mutakhir.

Tujuan saya jelas, membeli kumpulan soal UMPTN terbitan Epsilon (dulu saya selalu keliru menyebutnya Espilon dan sering menjadi bahan tertawaan di kelas) yang tebalnya na'udzubillahi min dzaalik. Tentu saja begitu tebal karena berisi kumpulan soal-soal Sipenmaru (dan berbagai perubahan namanya) sejak era 70-an. Ditambah pembahasan yang tentunya memakan ruang lebih banyak, buku itu sendiri telah menjelma menjadi monster yang bakalan diemohi generasi millenial.

Dus! Berangkatlah kami ke tujuan dengan menumpang bus ke Bungurasih. Sesampainya di sana, lalu kami berganti transportasi ke tujuan menggunakan Angguna. Taksi murah Surabaya zaman itu yang kelasnya hanya sedikit lebih tinggi dibanding bajaj.

Singkat cerita, saya dan rekan mendapatkan apa yang kami cari.

Setelah itu, kawan saya ini memutuskan untuk menyambangi pacarnya yang kebetulan sedang di kota ini juga. Pacarnya, seorang kristen. Maksud saya, pengikut Gusti Yesus. Mbuh Protestan mbuh Katulik. Saya tak tahu bedanya. Dia juga saya kenal baik karena cuma tetangga kelas di SMA 2 Jombang.

Singkat cerita lagi, sampailah kami ke rumah dimaksud. Waktu sudah memasuki dluhur.

Sebagai santri ala-ala, saya merasa masih berkewajiban untuk melaksanakan sembahyang. Dan setelah meminta ijin ke tuan rumah, saya dipersilahkan beribadah di salah satu kamar yang ada. Alhamdulilah.

Demikianlah. Saya pun melaksanakan hajat di situ.

Dan setelah mengucapkan takbiratul ikhram, ternyata saya baru menyadari ada sebuah patung Yesus tergantung persis di hadapan saya. Waduh! Tentu saja saya salah tingkah. Mau dibatalkan kok sudah kadung. Mau diteruskan kok rasanya gimana gitu.

Demikianlah. Dalam keadaan bingung saya pun memutuskan the show must go on.

Sambil mengucapkan lafal-lafal ibadah, dalam hati saya pun berucap kurang lebih begini:

"Ngapunten, Gusti... Kula namung sekedhap, kok. Saya datang dengan damai. Saya di sini hanya menjalankan kewajiban dan saya tidak tidak berniat mengganggu dalam bentuk apa pun.

Mohon maklum dan matur nembah nuwun."

Al fatihah.

08 Februari 2019

Kisah tentang Pisang Dan Penjualnya

Penjual pisang ini adalah seorang bapak tua yang biasanya kupanggil Babeh. Di Pasar Minggu. Di belakang terminal bus, juga belakang pasar. Di pinggir jalanan yang selalu becek setiapkali selepas hujan melanda. Baik besar, apalagi gerimis.
Tubuhnya bongkok, kurus, kecil, berkulit hitam, berambut ikal, berkumis tebal. Seringkali kudapati dia sedang merokok murahan saat kusamperi lapaknya. Lapak sementara yang hanya berupa 2-3 keranjang berisi pisang-pisang kelas 2.
Ya. Dia selalu menjual pisang kelas 2. Pisang yang jarang dilirik oleh pedagang besar, juga pembeli. Ia menjualnya murah. Sangat murah. Bahkan tak jarang aku menolak beberapa sisir yang dia berikan. Tiga sisir pisang ambon seharga Rp5.000. Atau Rp10.000 dikasih 3, terkadang 5. Apalagi jika yang tersedia pisang ambon lumut, aku bisa mengambilnya sesuka hati. Atau setandan pisang tanduk seharga 10 ribu. Dan aku tak pernah menawar.
Terkadang aku menganggap dagangannya terlalu tidak masuk akal. Untuk ukuran Jakarta yang gemerlap. Bagaimana caranya dia menghidupi dirinya? Juga keluarganya. Yang tinggal di Garut. Yang dikunjunginya beberapa bulan sekali.
Satu hal yang kusukai, dia tidak pernah berbohong, seperti kebanyakan pedagang pisang yang kutemui. Bilangnya bagus, mateng sempurna, ternyata karbitan. Dalam suasana pasar sekitar maghrib yang remang, menentukan pisang yang bagus tidak jarang menyulitkan.
Suatu kali, aku memberinya uang zakat. Zakat mal dari bosku yang budiman. Ia menangis. Berterima kasih dengan sangat, lalu dengan cekatan memberikan bersisir-sisir pisang yang banyak. Aku menolak. Juga ikut menangis.
Dalam hati saja.